pandangan tentang berdialog dengan aetis


Pandangan Terjemah ceramah kamal al-Haydari
Berdialog dengan aetis
            Pernah kita berfikir atau berpendapat orang lain, apalagi dengan orang yang berbeda jauh suku dan agamanya dengan kita. Walau dengan seperti itu menurut saya, seperti yang dijelaskan dalam terjemahnya ceramah kamal al-Haydari. Kita memang perlu adanya berdialog dengan orang lain, apalagi ini dengan orang aetis. Aetis itu orang yang tidak beriman kepada Allah, menolak keberadaanNya, mengingkari dan meragukan agama.
Tetapi dengan seperti itu kita masih diwajibkan untuk berdialog bukan malah untuk mengkritik dan membantah. Didalam dialog memang ada kritik, tetapi mengkritik bukan menyerang. Saya sendiri setuju dengan pendapat ini.
Yang pertama dalam beragama adalah mengenal Allah. Mengenal ajaranNya, mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya. Agama tauhid, Islam yang berbasis pada pilar utama, dan ini termasuk keyakinan umat islam terhadap TuhanNya.
Orang aetis tentunya berbeda pandangan dan pendapat dengan umat muslim, umat muslim yang berdialog dengan Al-Qur’an dan hadist. Tidak seharusnya mereka menolak dalil kita. Dan lebih baik lagi itu seperti yang saya baca, kita berdalil dengan Al-Quran dan Hadist saat sebagian pendengar adalah orang-orang yang sudah beriman.
Tidak masalah jikaa mereka tidak memperhatikan dalil kitatau menolak. Mereka memang harus memahami pijakan kita dalam berdialog dengan mereka.
Orang yang mencari kebenaran itu timbul dari dirinya masing-masing. Orang muslim yang percaya dengan adanya Tuhan mereka yaitu Allah. Itu mencari kebenaran pula dalam hidupnya. Sama halnya dengan mereka yang mempunyai prinsip hidup lain yang menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada, mereka mempunyai dalilnya tersendiri bahwa Allah itu tidak ada dan dalil tentang tidak sahihnya wahyu, mereka juga pastinya mencari kebenaran pula.
Menurut saya mereka mencari kebenaran dengan cara yang tidak salah, karena manusia punya pendirian masing-masing. Mereka ingin selalu didengar pendapatnya, dan kita harus mempunyai pemikiran yang seimbang.
Tetapi, tidak seharusnya bahwa dia merasa telah mencapai kebenaran, dia mencela orang-orang yang meyakini Allah itu ada. Semuanya balik lagi keawal kita berdialog dengan etika bukan logika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku dan Agamaku

Resensi Film Agora